Penyangga mata air

Elo Penyangga Mata Air
   Sudah cukup lama rasa penasaran itu tertancap dalam benak Tole. Langkahnya selalu ingin tertuju pada sebuah pohon rindang yang besar menyerupai beringin itu. Lagi-lagi Tole berbuat ulah. Padahal tak satupun teman-temannya berani mendekati pohon itu. Beberapa waktu lalu kata yang selama ini tersimpan terpaku untuk melontarkannya pun akhirnya terutarakan dengan keberanian.
   “Pohon apakah yang ada dipinggir Sungai Ngasem itu bah?” Akhirnya tole berani mempertanyakan tentang pohon itu kepada abah setelah sekian lama. Elo, ya itu namanya. Nampak menyeramkan dengan ukuran batang yang cukup besar dan cabang pohon muncul akar yang menjulur kebawah menyentuh tanah. Buah-buah pohon juga nampak tumbuh bergerombol di setiap batangnya. 
   Bermain merupakan hal yang tak asing lagi bagi teman-teman bersama Tole. Tidak semua menganggap elo menyeramkan. Seperti biasa mereka bersama tole bermain disekitar jajaran elo.
   “Apa yang kau cari ? Tole yang bertanya kepada Sabar, salah satu teman dekat Tole. Sabar nampak kebingungan dengan hilangnya bekal dan pakaian yang telah di bawanya dan tertinggal di dekat Sungai Ngasem tepatnya di bawah elo.
   Sejak saat itu pun teman-teman Tole tak ada yang berani mendekati maupun bermain disekitar elo. Tole juga nampak sangat heran akan hilangnya bekal dan pakaian Sabar hingga saat itu. Anehnya lagi tajuk elo yang rindang tiba-tiba menjadi buntung. Tidak seorang pun teman Tole yang berani mendekati elo itu. 
  Hingga suatu ketika Tole yang biasa berulah di ladang merasa lelah dan ingin beristirahat di pinggir Sungai Ngasem. Tole yang tidak perduli dengan keadaan langsung  beristirahat di bawah elo yang begitu rindang. Cukup lama Tole tidak kembali ke rumah. Hingga menjelang malam, semua teman-teman tole mencarinya. Tapi tidak seorang pun yang mengetahui keberadaan Tole. Rasa khawatir teman-teman Tole semakin menjadi-jadi hingga akhirnya memutuskan untuk melihat Tole di Sungai Ngasem. Tiba-tiba sesampainya di pinggir sungai mereka melihat sesosok orang bersama binatang yang berekor panjang nampak berlari-lari disekitar elo.
   “Hai, sedang apa kalian disana? tiba-tiba ada suara yang terdengar di sekitar pohon elo.
   “Aaaa..... tanpa berbikir panjang mereka berlari untuk meninggalkan tempat gelap itu. Akan tetapi kaki mereka tersangkut akar pohon dan akhirnya mereka terjatuh. Bayangan gelap seakan-akan mendekati mereka. Raut wajah menegangkan telah menyelimuti yang bercampur dengan keringat dingin.
  “Makanya jangan berlari-lari. Kenapa kalian terlihat sangat takut? 
  Suara itu pun terdengar semakin mendekat dan ternyata bayangan itu adalah Tole. Tole yang bermain di bawah elo bersama kera ekor panjang. 
   Hari semakin larut malam Tole bersama temannya kembali ke rumah diiringi cerita Tole yang seharian bermain di bawah elo. Tanpa sengaja siang hari di bawah elo Tole melihat sela-sela akar elo di tepi sungai mengalirkan aliran air yang terlihat jernih sekali. Disamping itu pohon itu terkadang juga didatangi oleh kera ekor panjang. Kera yang memakan buah-buah elo. Sesampainya di rumah Tole juga menceritakan tentang elo kepada abah.
  "kenapa terkadang tajuk elo buntung bah?" kata Tole yang melontarkan rasa penasarannya kepada abah.
    “karena daun-daun elo sangat disukai ulat dan terkadang banyak masyarakat desa yang mengambil daunnya untuk makanan ternak."
   Rasa penasaran Tole akan keanehan elo pun terjawab, mulai dari bekal dan pakaian sabar yang hilang yang ternyata diambil kera ekor panjang. Serta pinggir Sungai Ngasem yang banyak di tanami elo karena elo yang menjaga keberadaan air sungai hingga saat ini mata air sungai dapat terjaga sangat baik.

Komentar